MAMA MIA VS INDONESIA IDOL

mama-mia.jpgSudah tidak bisa dipungkiri bahwa bisnis di bidang entertaintment (baca : hiburan) adalah merupakan bisnis yang sangat menguntungkan saat ini.

Musik, Film dan Sinetron membanjiri dan mendominasi acara-acara di semua stasiun televisi di indonesia. Sehingga tidak mengherankan honor yang diterima para artis dan pemain musik bisa mencapai ratusan juta. Hal tersebut menjadikan profesi artis dan pemain musik (umumnya disebut selebritis) adalah profesi yang diidam-idamkan oleh hampir semua orang.

Terlebih lagi sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menjadi artis, asal berwajah ganteng atau cantik (minimal eye chatcing), bisa akting, bisa nyanyi, bisa nari, dll…dll.

Banyak agen-agen hiburan yang bermunculan dengan membawa artis-artis pendatang baru. Meskipun demikian ada agen yang benar dan juga ada agen yang palsu…cara membedakannya ? saya sendiri juga belum tahu (soalnya belum pernah nyoba jadi artis :) ).

Tidak hanya itu, semua stasiun televisi juga berlomba-lomba membuat acara yang menampung artis-artis baru menjadi pujaan masyarakat.

“American Idol” adalah acara pertama yang menampilkan orang-orang biasa menjadi artis pujaan seluruh masyarakat di amerika. Kesuksesaan acara tersebut hingga membuat negara-negara lain membuat acara yang serupa, hingga indonesia.

Acara tiruan (plagiat…memang mungkin sudah khas indonesia :) ) bermunculan di semua stasiun televisi. Mulai dari AFI dan Mama mia di indosiar, KDI di TPI, Indonesian idol di RCTI dan acara-acara lain yang ternyata semuanya sukses mendapat rating yang cukup tinggi.

Hal itu merupakan suatu bukti bahwa memang masyarakat Indonesia menginginkan ketenaran yang akhirnya akan menuju kepada suatu hal yang sama …UANG.

Ditengah keadaan ekonomi yang masih sulit di Indonesia, membuat masyarakat harus berjuang keras memperbaiki tingkat ekonomi dan pendapatan mereka. Ada yang berjuang dengan bersabar ada juga yang tidak sabar (ingin serba instant).

Mungkin karena itulah semua acara baik AFI, KDI, American Idol sampai Indonesian idol dan Mama Mia diminati banyak orang. Peserta akan secara instant menjadi idola masyarakat dengan perhitungan banyaknya SMS yang dikirimkan (banjir rejeki nih buat para operator telepon seluler :)). Setelah menang peserta akan memperoleh kontrak rekaman, banjir order tampil mengisi acara, uang yang banyak, rumah mewah , dll, dll, dll.

Sifat hidup kapitalis secara tidak langsung mulai mendarah daging kedalam tubuh bangsa ini (atau mungkin memang disengaja oleh pihak asing ? ). Terlebih lagi kebanyakan peserta acara tersebut adalah kaum muda yang merupakan tulang punggung bangsa dan negara di masa depan. Keinginan menjadi “orang kaya” lebih mereka utamakan dari pada menuntut ilmu. Apalagi ada opini bahwa “saat ini banyak sarjana-sarjana susah cari kerja dan nganggur, buat apa kita sekolah ?”

Tidak hanya anak, sang ibu (sekarang sih populernya disebut mama :) ) juga ikut-ikutan tampil demi mendorong sang anak menjadi artis pujaan. Contoh terbaru dari acara tersebut adalah Mama mia di indosiar yang mendapat rating yang cukup tinggi (atau mungkin paling tinggi ? ) sehingga muncul acara sempalan dari mama mia seperti mama mia selebs yang intinya adalah untuk mendongkrak rating.

Demikian tingginya rating sehingga indosiar menayangkan acara tersebut dari jam 18.00 sampai dengan 23.00 (kira-kira kapan mereka sempat sholat maghrib dan sholat isya yah ? ). Lamanya acara tersebut sampai mengalahkan lamanya sebuah film India ( rata-rata Cuma 3 jam, itu juga sudah bisa bikin kita pules tidur lho J ). Sang mama rela berbuat habis-habisan demi kemenangan sang anak demi meraih kesuksesannya, di mata sang mama keberhasilan seorang anak = kesejahteraan hidup ( menurut anda bagaimana ? ).

Tidak jauh berbeda, Indonesian idol juga mempunyai konsep yang sama. Acara plagiat dari amerika ini menampung anak-anak muda dari seluruh Indonesia untuk mengikuti kontes menyanyi sehingga nantinya menghasilkan satu orang yang akan menjadi idola baru di Indonesia. Sungguh fenomenal karena ternyata pesertanya membludak dan membuat untuk seleksi saja membutuhkan waktu berminggu-minggu. Para peserta juga bermacam-macam, ada yang dari pengamen, tukang sayur, sampai kepada mahasiswa, pegawai swasta dan bahkan anak dari orang kaya turut serta dalam acara tersebut. LUAR BIASA !

Bila dicermati, kita harus waspada bahwa bisa jadi ini merupakan bagian dari sekrenario yang berusaha membuat bangsa kita yang terkenal “muslim terbesar di dunia” menjadi bangsa yang lemah dan hanya mengejar harta, kekayaan tanpa mengejar ilmu dan akhirat. Anak-anak muda tidak lagi menjadi penerus bangsa yang cendikiawan, berwawasan serta berakhlak tetapi menjadi anak muda yang malas, bodoh dan tidak bermoral baik, yang akan menjauhkan mereka dari pemahaman islam yang baik dan jauh dari semangat jihad.

————————————————————————————————————————
Kutipan sebagian “protocol of zionis”

  • Beberapa sasaran untuk mencapai tujuan adalah minuman keras, narkotika, pengrusakan moral, seks, suap dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut (pasal 8)
  • Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan (pasal 24)

————————————————————————————————————————
Melihat kutipan di atas sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu waspada dan menjaga keluarga kita dari dekadensi moral maraknya acara-acara yang mungkin merupakan bagian dari sekrenario pihak yang ingin menghancurkan islam.

Leave a Reply